Matahari hari ini tampak
malu-malu menunjukkan jati dirinya. Dia bersembunyi dibalik awan-awan yang
seakan melindunginya. Mungkin suhu disini sekitar 28 derajat celcius.Tidak
panas, juga tidak dingin –bagi sebagian orang. Tetapi aku memandang langit dengan
was-was. Aku tahu kalau cuaca akhir-akhir ini susah sekali untuk diprediksi.
Pagi-pagi cerah, tetapi saat beranjak siang langit mulai mendung lalu hujan.
Benar-benar menyebalkan.
Jam tanganku menunjukkan pukul
13.00 atau jam 1 siang. Siang ini terlihat banyak mahasiswa berlalu lalang di
pelataran kampus. Berkali-kali aku melihat jam dan mengetuk-ngetuk bangku lusuh
yang sedang aku duduki. Mataku melihat ke berbagai arah mata angin. Ya, aku
sedang menunggu seseorang. Dan asal kalian tahu saja, aku benci menunggu.
“Merry!!”, panggil seseorang. Aku
mencari sumber suara orang itu.
Kulihat laki-laki berpakaian
kasual dengan jaket jeans menghampiriku. Senyumnya mengembang menyisakan mata
sipit melengkung yang sangat aku sukai. Ya, aku suka dengan laki-laki ini.
Sejak lama.
“Sorry lama. Tadi ada urusan
sebentar”, Laki-laki itu beralasan. Aku hanya mengangguk sambil pasang muka
cemberut. Laki-laki itu mencubit pipiku dengan gemas.
“Aduh, apaan sih main
cubit-cubit?”, Aku marah kepadanya.
“Makanya jangan suka cemberut
gitu.”
“Salah siapa aku jadi cemberut
gini? Aku nunggu kamu satu jam, Ghan. Satu jam! Kamu tau sendiri aku benci
nunggu.”, tanganku mulai mengepal. Entah kenapa aku bisa semarah ini.
“Aku minta maaf, Mer. Tadi aku
benar-benar ada urusan penting yang nggak bisa aku tinggal.” Wajahnya memelas
menatapku. Aku balas menatapnya. Menatap matanya mencari sebuah kejujuran
disana.
“Iya. Yaudah ayo kita berangkat.”
Jawabku sambil menghela napas. Ritme jalanku kupercepat meninggalkan dia
dibelakang.
“Kamu mau kemana?”, Tanya
laki-laki itu sambil menahan senyum.
“Ke parkiran motor. Kamu bawa
motor kan?”, Tanyaku balik.
“Benar aku bawa motor. Tapi
motorku aku titipkan di kos David.” Tangannya menunjuk arah yang berlawanan
dengan jalanku sekarang.
“Kenapa baru bilang sekarang?”
Aku membalas dengan nada gemas sekaligus dongkol.
“Kan kamu nggak nanya. Makanya
jangan main jalan aja.”, jawabnya santai. Sekarang senyumnya ia keluarkan
terang-terangan. Dia menghampiriku dan menarik tanganku agar dapat mensejajari
langkahnya. Diam-diam aku ikut tersenyum.
Laki-laki itu bernama Ghani. Nama
lengkapnya Devano Ghani Irawan. Ghani adalah laki-laki yang dapat membuatku
tersenyum walaupun aku sedang marah sekalipun. Dan aku adalah Merry. Merryska
Sarasvati. Wanita yang dapat tersenyum sendiri saat memikirkan laki-laki itu.