Kamis, 19 November 2015

Cactus - Chapter 1

         Matahari hari ini tampak malu-malu menunjukkan jati dirinya. Dia bersembunyi dibalik awan-awan yang seakan melindunginya. Mungkin suhu disini sekitar 28 derajat celcius.Tidak panas, juga tidak dingin –bagi sebagian orang. Tetapi aku memandang langit dengan was-was. Aku tahu kalau cuaca akhir-akhir ini susah sekali untuk diprediksi. Pagi-pagi cerah, tetapi saat beranjak siang langit mulai mendung lalu hujan. Benar-benar menyebalkan.

Jam tanganku menunjukkan pukul 13.00 atau jam 1 siang. Siang ini terlihat banyak mahasiswa berlalu lalang di pelataran kampus. Berkali-kali aku melihat jam dan mengetuk-ngetuk bangku lusuh yang sedang aku duduki. Mataku melihat ke berbagai arah mata angin. Ya, aku sedang menunggu seseorang. Dan asal kalian tahu saja, aku benci menunggu.

“Merry!!”, panggil seseorang. Aku mencari sumber suara orang itu.

Kulihat laki-laki berpakaian kasual dengan jaket jeans menghampiriku. Senyumnya mengembang menyisakan mata sipit melengkung yang sangat aku sukai. Ya, aku suka dengan laki-laki ini. Sejak lama.

“Sorry lama. Tadi ada urusan sebentar”, Laki-laki itu beralasan. Aku hanya mengangguk sambil pasang muka cemberut. Laki-laki itu mencubit pipiku dengan gemas.

“Aduh, apaan sih main cubit-cubit?”, Aku marah kepadanya.

“Makanya jangan suka cemberut gitu.”

“Salah siapa aku jadi cemberut gini? Aku nunggu kamu satu jam, Ghan. Satu jam! Kamu tau sendiri aku benci nunggu.”, tanganku mulai mengepal. Entah kenapa aku bisa semarah ini.

“Aku minta maaf, Mer. Tadi aku benar-benar ada urusan penting yang nggak bisa aku tinggal.” Wajahnya memelas menatapku. Aku balas menatapnya. Menatap matanya mencari sebuah kejujuran disana.

“Iya. Yaudah ayo kita berangkat.” Jawabku sambil menghela napas. Ritme jalanku kupercepat meninggalkan dia dibelakang.

“Kamu mau kemana?”, Tanya laki-laki itu sambil menahan senyum.

“Ke parkiran motor. Kamu bawa motor kan?”, Tanyaku balik.

“Benar aku bawa motor. Tapi motorku aku titipkan di kos David.” Tangannya menunjuk arah yang berlawanan dengan jalanku sekarang.

“Kenapa baru bilang sekarang?” Aku membalas dengan nada gemas sekaligus dongkol.

“Kan kamu nggak nanya. Makanya jangan main jalan aja.”, jawabnya santai. Sekarang senyumnya ia keluarkan terang-terangan. Dia menghampiriku dan menarik tanganku agar dapat mensejajari langkahnya. Diam-diam aku ikut tersenyum.


Laki-laki itu bernama Ghani. Nama lengkapnya Devano Ghani Irawan. Ghani adalah laki-laki yang dapat membuatku tersenyum walaupun aku sedang marah sekalipun. Dan aku adalah Merry. Merryska Sarasvati. Wanita yang dapat tersenyum sendiri saat memikirkan laki-laki itu.

Senin, 26 Oktober 2015

CACTUS - Prolog

Prolog


Kisah ini tentang seseorang yang ingin mencintai dan dicintai, tapi disisi lain dia sendiri takut untuk mencintai dan dicintai.

Setiap orang mempunyai sisi yang tidak ingin diketahui oleh orang lain, dengan begitu dia bisa melalui hari-harinya tanpa takut dicela dan dihina. Orang macam itu ada banyak, bisa jadi itu aku, bahkan bisa jadi itu kamu yang sedang membaca kisah ini.

Tidak, tidak ada yang salah dengan itu. Setiap orang mempunyai hak untuk memilih jalan hidupnya masing-masing. Sepertiku, yang memilih jalan hidup seperti ini. 

Semua berawal saat aku bertemu dengan seseorang yang (aku kira) dapat mengubah hidupku. Dia terlihat begitu sempurna dimataku. Sesekali kali ujung mataku mencoba mencuri pandang ke arahnya, dia selalu bersikap acuh. Matanya lurus melihat kedepan seakan tidak menyadari ada beberapa pasang mata yang sedang mencoba melihat kearahnya. Sepertinya dia tidak ambil pusing tentang apa yang telah terjadi beberapa hari lalu. Seakan kejadian itu tidak pernah terjadi dalam hidupnya.

Kali ini aku tidak akan menyerah. Tanganku mengepal. Aku harus menyelesaikan semuanya.